InDES Online Desa Cangkring Rembang Kec. Karanganyar Kab. Demak


 

InDES Online Desa Cangkring Rembang   Kec. Karanganyar Kab. Demak

One thought on “InDES Online Desa Cangkring Rembang Kec. Karanganyar Kab. Demak

  1. LINGKUNGAN HIDUP
    Oleh : Eko Saputro, S.Pd.I

    Memasuki musim hujan ditahun 2014, runtutan bencana terjadi terus menerus. Derasnya hujan menimbulkan meluapnya banjir,gunung dan tanah longsor yang terjadi di beberapa kota di Jawa Tengah, bahkan bencana ini sudah menjadi isu darurat bencana Nasional. Kita bisa menyaksikan betapa perihnya penderitaan yang dialami saudara-saudara kita di kawasan bencana. Karena intensitas hujan yang sangat tinggi, beberapa dari mereka bahkan terancam Abrasi sebagaimana terjadi di Kabupaten dan kota-kota tersebut Jika tidak mendapatkan perhatian serius, korban akan terus bertambah.
    Barangkali, alam telah mulai muak -bukan sekadar bosan- terhadap kita. Apa yang selama ini kita lakukan, mungkin telah melebihi batas kewajaran. Eksploitasi besar-besaran terhadap alam tidak diimbangi dengan pelestarian. Lihat saja berapa juta kubik kayu yang di ekspor oleh negara-negara maju dari negara-negara berkembang seperti Indonesia. Jepang saja, sebagaimana dilansir oleh World Wide Fund for Nature (WWF), setiap tahun mengimpor 20,6 juta kubik kayu dari Malaysia.
    Ada beberapa faktor yang, menurut Eko Santoso, turut menimbulkan kerusakan lingkungan. Yakni, kepadatan penduduk, kemiskinan ekonomi, kemiskinan pengetahuan, serta perkembangan teknologi dan industri. Faktor-faktor inilah yang mengganggu keseimbangan ekosistem. (Eko Santoso: 2003)
    Sebagai konsekuensi kemajuan teknologi, banyaknya hutan yang dijadikan lahan industri, menjauhkan manusia dari kesadaran hidup bersama alam. Bahkan sekarang ini, akibat polusi lingkungan, sekitar 15000 spesies terancam punah. Jika pencemaran terus berlanjut dan suhu bumi mencapai 2,5 hingga 5,5 derajat celsius, salju dan es akan mencair. Akibat selanjutnya adalah naiknya permukaan air laut yang akan menimbulkan petaka di seluruh daratan bumi.
    Sungguh dahsyat kerusakan yang ditimbulkan dari tangan-tangan makhluk berspesies kecil ini. Benar pula apa yang disinyalir oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an bahwa kerusakan yang ada di atas bumi ini pada dasarnya adalah karena kesalahan tangan-tangan manusia. Manusia yang seharusnya menjadi manajer Tuhan (khalifah al-Ardl) dalam mengelola alam ini ternyata telah berbuat lebih dari kewajaran. Padahal telah beberapa kali peringatan-demi peringatan telah disampaikan. Tidak heran jika yang ditimbulkan adalah bencana. Bukan menyalahkan, namun itu adalah realitas yang tidak dapat kita pungkiri.

    Kasih Sayang Tuhan
    Seakan tidak ada lagi kasih sayang yang terjalin antara manusia dan lingkungannya. Di antara keduanya terdapat tabir yang menghalangi, yakni nafsu serakah. Para elit yang tidak kasih, membuat rakyat tidak hidup sejahtera, atas tindakan korupnya. Karena kebutuhan ekonomi, kita tidak bisa menyalahkan jika mereka, saudara kita yang kurang beruntung itu akhirnya mengeksploitasi alam tanpa dasar, karena pengetahuan yang terbatas. Penebangan hutan liar yang dilakukan oleh “saudara-saudara” kita disana, semata-mata hanya karena ingin meneruskan hidup. Kita tidak berhak melarang, selama kita belum bisa membantu. Dimana kasih dan sayang para elit itu?. Hilang.
    Tuhan sangat kasih terhadap mahkluknya, sehingga keberadaan bumi tiada lain adalah untuk mahluk ciptaannya itu. Lihat firmannya: “Sesunguhnya aku menciptakan langit dan bumi untuk manusia”.(QS:6:42). Setelah menciptakan bumi dan langit, ia menciptakan segala fasilitas yang ada didalamnya. Diciptakanlah lautan yang luas dengan segala kekayaan didalamnya (QS. An-Nahl:14) dan air hujan yang menghidupkan bumi setelah masa-masa keringnya (QS. Al-An’am:99 dan QS. Ibrahim:32). Lebih dari itu, Allah kemudian memperindah bumi dengan menciptakan hewan, tumbuhan, angin dan awan di angkasa sebagai teman hidup manusia.
    Setelah semua tercipta, Tuhan hanya memberikan satu amanat saja kepada manusia: Mengelolanya dengan baik. Dikatakan dalam Al-Quran Surat Al-A’raf: 56: “Dan janganlah kalian membuat kerusakan diatas muka bumi setelah Allah memperbaikinya”. Kasih sayang Tuhan kepada manusia adalah indahnya lukisan dunia ini.
    Kemurahan Tuhan bahkan berlanjut pada pemberian ganjaran bagi yang mau melestarikan alam ini. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad pernah bersabda: “Barang siapa yang menanam sebuah pohon, dan pohon itu berbuah, Allah akan memberikan pahala bagi orang itu sebanyak buah yang tumbuh dari pohon tersebut”. Beliau juga pernah mengatakan: “memakan binatang buas yang bertaring adalah haram”. Pelarangan ini dikemudian hari ternyata berefek pada pelestarian binatang langka yang dilindungi, yang kebanyakan bertaring seperti rajawali, singa, macan dll.
    Kasih sayang Tuhan itu, sesungguhnya harus kita imbangi dengan pelestarian alam ini. Siap lagi kalau bukan kita yang menjaga. Hanya manusia yang dititipi amanat untuk menjaganya melalui pemberdayaan akal yang dimiliki. Adalah etika lingkungan yang harus dipegang teguh. Yakni etika hidup yang berbasis kasih sayang. Etika pemeliharaan alam yang diawali dengan kesadaran penuh akan eksistensi alam sebagai amanah, sehingga kegiatan eksploitasi alam tak menimbulkan pencemaran. Konservasi lingkungan harus berdasarkan pada nilai-nilai humanis, berorientasi populis dan bervisi progresif.
    Dengan demikian, diharapkan akan tercipta sifat pemeliharaan alam yang benar-benar konservatif. Bila tidak, maka benar apa yang dikatakan J. D Simond bahwa kita saat ini sedang bersama-sama melakukan Ecological Suicide, bunuh diri ekologi. (J.D Simond: 1996). Apa yang akan di dambakan dari perubahan, jika realitanya demikian, tidak ada kasih sayang, humanitas dan progresifitas dalam pemberdayaan alam. Mari kita bantu saudara-saudara kita yang tertimpa “muak”-nya alam dengan penuh kasih sayang.
    Sebagai komunitas dibidang kepecintaalaman mari kita senantiasa bergandeng tangan untuk bersama menjaga kelestarian alam dari keserakahan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Wacana-wacana aksi lingkungan harus diteriakkan agar kedamaian serta kepedulian terhadap alam selalu dinomor satukan demi kemakmuran bumi ini.
    Penulis adalah Alumnus Mapala Mitapasa STAIN SALATIGA 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s