MUHAMMADIYAH TIDAK PERLU KADER LAGI


muhammadiyahKetika turba dan ngobrol kecil–kecilan di kantor secretariat,kampus dan berberbagai tempat dengan teman–teman kader, saya sering mendengar celetukan kenapa yang bekerja di PKU Muhammadiyah bukan orang Muhammadiyah,yang jadi kepala Muhammadiyah tidak tau Muhammadiyah, dan ada juga yang mengajar pelajaran kemuhammadiyahan orang yang yang tidak tau Muhammadiyah tapi karena dengan mempunyai kartu tanda anggota Muhammadiyah sudah bisa di akui sebagai orang Muhammadiyah dan bahkan bisa mengalahkan tempat yang seharusnya menjadi haknya kader- kader Muhammadiyah yang sudah berproses sejak dini hingga perkaderan tingkat purna dan jelas telah mengembangkan Muhammadiyah secara nyata.Dan di sinilah Muhammadiyah terlihat sebagai organisasi yang memiliki “institutional identy” yang amat sangat rendah dan tidak punya proteksi terhadap organisasinya.


Mengapa terjadi semacam demikian karena kurangnya doktrinisasi dan lemahnya sistim kaderisasi di tubuh Muhammadiyah baik aksi maupun prosesnya. Kaderisasi adalah sebuah proses pembentukan SDM dan prekrutan masa untuk mengembangkan organisasinya secara idiologinya,secara keilmuanya dan subtansi organisasinya. Sehingga organisasi tersebut bisa berkembangTapi yang terjadi saat ini adalah sebuah sistim kroni keluarga yang tidak jelas,dengan dasar para pimpinan Muhammadiyah banyak memasukkan orang – orang yang tidak jelas dari mana asalnya.Asalkan dekat dengan bapak – bapak Muhammadiyah,ibu – ibu Aisyiah dan Pimpinan ortom Muhammadiyah yang punya kekuasaan di Muhammadiyah asalkan dia kaya,punya jabatan dan punya title bisa langsung bisa di rekomendasikan menjadi anggota Muhammadiyah bahkan langsung bisa menjabat di jabatan strategis Muhammadiyah. Dan bahkan para pimpinan Muhammadiyah dan ortomnya sering jadi profesi kernet atau calo transportasi yang selalu bilang Muhammadiyah,aisyiah,pemuda Muhammadiyah,sekolah Muhammadiyah dan label Muhammadiyah lainnya tapi tidak mau dan tidak mengenalkan label – label ini ini kepada keluarganya.dan hal ini kan bisa di bilang omong kosong bukan?.
Coba kita tilik ketika almarhum pak Djasman jadi rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta, beliau punya sebuah kebijakan bentuk komitmenya beliau untuk mengembangkan Muhammadiyah dan Ortomnya.Yaitu sebuah kebijakan:” barang siapa ingin jadi karyawan,pengajar dan pegawai di Universitas Muhammadiyah Surakarta harus bisa membentuk kelompok – kelompok pengajian Muhammadiyah atau aktif dalam pengembangan Muhammadiyah di daerahnya”.Sungguh Indah sekali kebijakan ini bila di kerjakan oleh Pimpinan Muhammadiyah dan menjadi kesadaran pimpinan Muhammadiyah di seluruh belantera jagad raya ini.Jadi bukan hanya berani bertitle Muhammadiyah ketika berada di lembaga amal usaha Muhammadiyah saja,tapi juga berani bilang ini loh saya orang Muhammadiyah baik itu di lembaga Muhammadiyah maupun di lembaga non Muhammadiyah dan di manapun berada.Sehingga Muhammadiyah bisa berkembang melalui jalur Kebudayaan seperti Menikah( istrinya,anaknya dan keluarganya tau Muhammadiyah),jalur pendidikan,jalur Organisasi.Di jalur pendidikan ini kita kalah dengan organisasi – oragnisasi di luar Muhammadiyah khususnya kalah akan kesadaran menyekolahkan anak–anak nya di sekolahan atau kampus Muhammadiyah,dengan alasan sekolah dan kampus Muhammadiyah kwalitasnya kalah dengan sekolah dan kampus non Muhammadiyah.kalau warga Muhammadiyah saja sudah pesimis dan tidak percaya terhadap amal usaha di bidang pendidikan yang di dirikan,lalu siapa yang akan mengembangkan dan percaya terhadap amal usaha yang di didrikan ini.Bahkan banyak sekolah – sekolah Muhammadiyah yang masih ragu mengenalkan Muhammadiyah di lingkungan sekolah Muhammadiyah, dengan dasar banyak materi–materi kemuhammadiyahan di sampaikan hanya sebagai penggugur kewajiban saja.Sehingga yang sekolah di Muhammadiyah orang NU ya tetap NU,PKS ya tetap PKS,PKI ya tetap PKI dan tidak ada yang di endapakan di tubuh anak didiknya.Memang benar tujuan amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan ini adalah untuk mencerdaskan bangsa tapi secara emplisit dan tanpa sebuah kemunafikan amal usaha ini di dirikan,juga sebagai pengembangan dan proses pengkaderan Muhammadiyah.
Berkembangnya Muhammadiyah yang efektif adalah melalui organisasi khususnya organisasi pengkaderan,karena Muhammadiyah adalah sebagai organisasi kemasyrakatan. Organisasi pengkaderan apa saja itu,Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM),Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pemuda Muhammadiyah (PM),Nasyiatul aisyiah (NA).Dengan organisasi pengkaderan inilah Muhammadiyah bisa berkembang baik secara formal maupun non formal.Tapi yang menjadi masalah saat ini banyak organisasi – organisasi yang sudah masuk dalam kubang pragmatisme.seperti mengurusi proyek sana sini,ikut parpol dll sehingga lupa akan proses dan program perkaderan yang harus di garapnya.dan di dalam organisasi pengkaderan ini bukan tidak membolehkan pimpinannya untuk melakukan hal ini tapi yang menjadi maslah adalah.Ketika sudah komitmen masuk dalam pimpinan organisasi pengkaderan maka harus konsekuen dengan aturan yang berlaku di dalamnya yaitu tidak melupakan proses dan program pengkaderan yang harus di garap.Dan di sisi lain yang harus paling bertanggung jawab terhadap pengkaderan Muhammadiyah adalah MPK ( Majelis Pengembangan Kader),tapi masih banyak para pimpinan MPK yang kurang paham dan acuh terhadap program pengkaderannya.Misalkan ada seorang pimpinan MPK dasarnya dari PII ya harus konsekuen ketika masuk di Muhammadiyah,harus mau melepas bajunya itu dan berganti baju Muhammadiyah.artinya dia harus berfikir terhadap pengembangan IPM,IMM,PM NA,dan perkaderan di tubuh amal usaha Muhammadiyah seperti pengkaderan untuk Karyawan,guru,direktur AUM.bukan memikirkan PII,HMI dll yang tidak ada hubungannya dengan Muhammadiyah.
Tapi masalahnya kadang – kadang yang di suruh bertanggung jawab terhadap proses pengkaderan ini hanyalah IPM dan IMM saja,dan PM,NA serta MPK tidak karena sudah terikat dengan masalah – masalah keluarga.Padahal dengan semakin pesatnya perkembangan Muhammadiyah itu SDM dan waktu yang di punya IPM dan IMM itu tidak semuanya bisa menjangkau,sehingga hal ini juga akan menghambat proses pendampingan dan pengawalan pengkaderan.
Untuk menangani permasalahan pengkaderan ini,Muhammadiyah harus adanya sebuah kesinergian antara Muhammadiyah dan Ortomya dalam membangun perkaderan,serta memberikan fasilitas beasiswa bagi kader – kader yang lemah secara ekonomi,punya keinginan kuat studi dan yang benar telah berproses sejak awal dan mengembangkan Muhammadiyah bukan memberikan beasiswa kepada yang bukan haknya seperti memberikan beasiswa bagi orang – orang yang notabenya bukan dari Muhammadiyah dan tidak jelas asalnya,sebagai pendampingan kader.Apalagi slogan Muhammadiyah yang selalu menggaungkan kalimat “Al-Maun” kalau Muhammadiyah tidak konsekuen berarti Muhammadiyah telah menghardik Islam, Kadernya,serta Muhammadiyahnya sendiri.Dan jika hal ini bisa di jalankan Muhammadiyah akan dapatkan kader – kader yang loyal,berdedikasi, tanpa melihat besarnya gaji dan tetap professional dalam mengembangkan Muhammadiyah menuju Negara Baldatun thoyibun warobun ghofur.tapi jika Muhammadiyah hanya melihat besarnya amal usaha saja tanpa di barengi dengan pendampingan kader dan lebih menjaring orang – orang besar yang tidak jelas aslanya.berarti Muhammadiyah sudah tidak butuh lagi kader dan akan segera runtuh subtansi Muhammadiyah serta hanya akan tinggal nama.
Ahmad Abdul Wakhid Anwar.

dikutip dari fb group UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA dengan pemosting Anisa Ums

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s